semoga ada hikmahnya
jakarta kebanjiran...???, wah mungkin bukan berita baru lagi. kata orang yang tinggal di jakarta sih itu udah siklus lima tahunan. tapi apa iya kita lantas menganggapnya jadi hal yang wajar?
jakarta, ibu kota dari negara yang besar, dari penduduk yang besar dan dari kekayaan alam yang besar pula. tapi ternyata jakarta juga harus dicatat sebagai 'penerima' banjir yang besar, yah paling tidak ditahun 2007 ini.
jujur saja, tadinya saya bangga lihat jakarta dengan segala kemewahannya, dengan segala keseronokannya, dengan segala kemegahannya. tapi kini? wah ternyata saya hanya melihat dari luarnya saja. hanya melihat dari bungkus yang tertata oleh gemerlapnya lampu kota, dari megah dan tingginya gedung dan dari namanya saja.
ternyata kota jakarta lebih ringkih dari sebuah kabupaten yang baru berdiri di beberapa daerah. meski saya tak pernah tertarik untuk menetap di ibukota ini, tapi kemegahan yang ditawarkan pernah membuat saya iri juga, karena kota saya tak seperti itu mewahnya.
beberapa minggu lalu, di jakarta kita melihat si kaya dan si miskin punya jarak teramat lebar di ibukota ini. si sukses dan si gagal bagai sisi dua mata uang yang meski dekat namun saling bersinggungan dan tak bersentuh. dan kini, banjir membuat semuanya menjadi berbeda.
si miskin kebanjiran dan harus mengungsi berbagi keselamatan dengan yang lainnya, si kaya juga begitu, meski yang dibutuhkan adalah kenyamanan. di jakarta kini mereka semua bisa merasakan persamaan nasib, yang mungkin tak pernah terpikirkan oleh si kaya kalau mereka juga bakal merasakan dinginnya air yang mengaliri kediaman mereka.
tapi tetap korban yang paling menderita adalah perempuan dan anak, meski ia kaya atau miskin, meski ia gagal atau sukses. merekalah korban yang sebenarnya, meski mungkin dibalik peristiwa ini, rasa kebersamaan akibat senasib mulai tumbuh dan akhirnya bisa terus semakin dekat, sehingga tak berjarak lagi hanya karena faktor ekonomi, seperti beberapa minggu lalu.
semoga saja ada hikmahnya.
jakarta, ibu kota dari negara yang besar, dari penduduk yang besar dan dari kekayaan alam yang besar pula. tapi ternyata jakarta juga harus dicatat sebagai 'penerima' banjir yang besar, yah paling tidak ditahun 2007 ini.
jujur saja, tadinya saya bangga lihat jakarta dengan segala kemewahannya, dengan segala keseronokannya, dengan segala kemegahannya. tapi kini? wah ternyata saya hanya melihat dari luarnya saja. hanya melihat dari bungkus yang tertata oleh gemerlapnya lampu kota, dari megah dan tingginya gedung dan dari namanya saja.
ternyata kota jakarta lebih ringkih dari sebuah kabupaten yang baru berdiri di beberapa daerah. meski saya tak pernah tertarik untuk menetap di ibukota ini, tapi kemegahan yang ditawarkan pernah membuat saya iri juga, karena kota saya tak seperti itu mewahnya.
beberapa minggu lalu, di jakarta kita melihat si kaya dan si miskin punya jarak teramat lebar di ibukota ini. si sukses dan si gagal bagai sisi dua mata uang yang meski dekat namun saling bersinggungan dan tak bersentuh. dan kini, banjir membuat semuanya menjadi berbeda.
si miskin kebanjiran dan harus mengungsi berbagi keselamatan dengan yang lainnya, si kaya juga begitu, meski yang dibutuhkan adalah kenyamanan. di jakarta kini mereka semua bisa merasakan persamaan nasib, yang mungkin tak pernah terpikirkan oleh si kaya kalau mereka juga bakal merasakan dinginnya air yang mengaliri kediaman mereka.
tapi tetap korban yang paling menderita adalah perempuan dan anak, meski ia kaya atau miskin, meski ia gagal atau sukses. merekalah korban yang sebenarnya, meski mungkin dibalik peristiwa ini, rasa kebersamaan akibat senasib mulai tumbuh dan akhirnya bisa terus semakin dekat, sehingga tak berjarak lagi hanya karena faktor ekonomi, seperti beberapa minggu lalu.
semoga saja ada hikmahnya.
